Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Purbalingga Perkuat Konsolidasi Demokrasi Pasca-Pemilu, Fokus pada Kualitas dan Peran ‘Teras Demokrasi’

Bawaslu Purbalingga Perkuat Konsolidasi Demokrasi Pasca-Pemilu, Fokus pada Kualitas dan Peran ‘Teras Demokrasi’

Purbalingga, (30/4/2026) – Jajaran Bawaslu Kabupaten Purbalingga bergerak cepat merampungkan pelaporan konsolidasi demokrasi periode Januari–April 2026. Hal ini ditegaskan dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang digelar Bawaslu Provinsi Jawa Tengah secara daring guna memastikan kesiapan data sebelum dilaporkan ke tingkat nasional pada Kamis siang.

Kegiatan yang diikuti oleh Ketua, seluruh Anggota, serta staf bidang hukum Bawaslu Purbalingga ini menekankan bahwa masa post-elektoral (pasca-pemilu) bukan berarti masa tenang, melainkan fase krusial untuk meningkatkan peran dan fungsi lembaga.

Akuntabilitas Melalui Sistem Pelaporan Digital

Dalam kesempatan tersebut, Totok menyampaikan bahwa konsolidasi demokrasi tidak berhenti pada tahapan pemilu semata, melainkan menjadi momentum penting untuk meninjau kembali kinerja Bawaslu dalam menjaga kualitas demokrasi secara berkelanjutan. Sebagai bentuk akuntabilitas dan keterbukaan publik, Bawaslu telah menyiapkan aplikasi pelaporan khusus yang memuat seluruh rangkaian kegiatan konsolidasi di daerah.

"Melalui sistem ini, masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa kerja pengawasan tetap berjalan melalui penguatan kapasitas dan evaluasi di tingkat akar rumput, bahkan setelah pemungutan suara usai," ungkap Totok. Hal ini sejalan dengan arahan Kabag Hukum Humas Datin Bawaslu Jateng, Bayu Indra Permana, yang meminta percepatan pengunggahan data agar pimpinan dapat memantau perkembangan secara berkala.

Bawaslu sebagai 'Teras Demokrasi' dan Pendekatan Humanis

Bawaslu Jawa Tengah mendorong transformasi peran lembaga agar menjadi "Teras Demokrasi". Koordinator Divisi Hukum dan Diklat Bawaslu Jateng, Diana, menjelaskan konsep ini sebagai ruang publik yang menghubungkan pihak terpilih dengan pemilih untuk mendiskusikan ideologi demokrasi.

Melengkapi visi tersebut, Totok menekankan pentingnya pendekatan yang lebih humanis melalui program seperti "Desa Demokrasi" dan "Konseling Demokrasi". Menurutnya, kegiatan ini tidak selalu bergantung pada anggaran besar, melainkan lebih pada membangun dialog dan kesadaran masyarakat agar nilai demokrasi tetap hidup dalam keseharian.

"Kita ingin menunjukkan bahwa kehadiran Bawaslu tetap nyata dan berdampak, tidak hanya saat tahapan pemilu berlangsung, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan demokrasi yang sehat dan partisipatif," tambah Totok.

Inovasi Sosialisasi 'Darat dan Udara'

Strategi komunikasi juga menjadi sorotan utama. Selain pertemuan fisik (jalur darat), inovasi sosialisasi melalui media radio (jalur udara) mendapat apresiasi tinggi karena dinilai efektif merajut kembali keterlibatan stakeholder.

Kombinasi antara pelaporan yang transparan, pendekatan lapangan yang membumi, dan publikasi yang luas diharapkan dapat menjawab keraguan masyarakat serta memperkuat posisi Bawaslu sebagai pengawal demokrasi yang terpercaya di Jawa Tengah.

Penulis : Muhamad Purkon